Showing posts with label KEDOKTERAN HEWAN. Show all posts
Showing posts with label KEDOKTERAN HEWAN. Show all posts

Penyakit "Panleukopenia" pada kucing

Penyakit panleukopenia pada kucing
     (( See my Instagram at https://www.instagram.com/ajibondhan_k/ )) or ID= aji bondhan kottama ?:) Tak terasa sudah 5 bulan saya tidak menulis di blog ini, lama ya? hehee,,  hal itu karena sedang banyak kegiatan kampus mulai dari Skripsi - pkl - kkn - dan besuk mau lanjut koas hehee, doakan ya..
Kali ini saya akan berbagi pengetahuan terkait disiplin ilmu yang saya pelajari di kampus, artikel ini bersumber dari http://dokterhewanku.com/09/09/2016/penyakit-kucing-jahat-panleukopenia/
Okee langsung saja artikelnya dibawah ini :


Sumber gambar : http://dokterhewanku.com/wp-content/uploads/2016/09/Kucing-sakit.png

�Penyakit Panleukopenia itu apa dok? kok bisa kena ya? Bisa sembuh enggak?�
Saya langsung diberondong pertanyaan oleh klien saya. Dari raut mukanya menunjukkan kesedihan yang mendalam, maklum kucingnya  terkena penyakit ini.
Penjelasan yang saya berikan padanya kurang lebih seperti dibawah ini:

Deskripsi Umum dan Penyebab
Panleukopenia di Indonesia juga dikenal dengan nama �Penyakit Kucing Jahat� (1); penyakit ini mempunyai banyak nama lain, salah satunya yakni Feline Distemper. Merupakan penyakit yang sangat menular, sering fatal dan terjadi di seluruh dunia (2). Biang keladi penyakit ini adalah Feline Panleukopenia Virus (FPV), yang masih tergolong dalam feline parvovirus(1,2). Virus ini mampu bertahan selama 1 tahun di lingkungan �pada suhu ruang�, jika terlindungi oleh bahan organik(2). Tingkat kematian yang ditimbulkannya antara 25-90%, dan mencapai 100% pada infeksi yang perakut / tiba-tiba(6, 7). Salah satu studi yang dilakukan di Jerman dari 244 kucing yang terkena penyakit ini, menunjukkan bahwa 57% kucing yang berumur kurang dari 6 bulan atau kucing muda lebih mudah terkena penyakit ini, dibandingkan yang lebih tua(8). Panleukopenia juga dapat menginfeksi hewan-hewan lain yang masih sekerabat dengan kucing, yaitu: rakun, cerpelai serta serigala (9).

Cara Penularan

Kucing dapat tertular penyakit ini secara langsung melalui udara yang terpapar oleh hewan terinfeksi, kotorannya, sekresi (misalnya: lendir yang dikeluarkannya) maupun secara tidak langsung benda-benda yang terkontaminasi (misalnya: sepatu, pakaian dan peralatan-peralatan) (2,3). Sehingga tetap ada resiko pada kucing yang hanya dipelihara di dalam rumah untuk tetap tertular(3). Kebanyakan kucing yang hidup berliaran dianggap terkena virus ini selama tahun pertama dari kehidupan mereka(2).

Proses Berjangkitnya Penyakit
Awalnya virus bereplikasi pada jaringan oropharynx, lalu menyebar ke semua jaringan(10). Virus akan menginfeksi dan menghancurkan khususnya pada sel yang aktif membelah, misalnya sumsum tulang, jaringan lymphoid, epitel usus, dan� pada hewan muda� otak kecil serta retina. Infeksi pada epitel usus akan menyebabkan diare. Infeksi pada limfo nodus dan tymus, menyebabkan limfopenia (penurunan jumlah sel darah putih). Infeksi pada sumsum tulang menyebabkan neutropenia (penurunan jumlah netrofil), lalu juga trobositopenia (penurunan jumlah trombosit) dan anemia (penurunan jumlah sel darah merah) (11).
Pada betina yang bunting, virus mungkin dapat menyebar melalui plasenta dan menyebabkan penyerapan embrio, mumifikasi janin, abortus atau kematian janin. Janin yang terinfeksi pada periode akhir dapat mengalami kehancuran pada epitel germinal dari otak (5).
Kebanyakan infeksi berlangsung secara subklinis atau tidak menunjukkan gejala sakit, yang dibuktikan dengan tingginya antibodi terhadap virus ini walaupun tidak pernah divaksinasi(2).

Gejala Klinis
Tanda-tanda kucing yang terjangkit penyakit ini adalah tidak mau makan, kelesuan, muntah-muntah, demam, dehidrasi (ditandai dengan keras dan keringnya telapak kaki), beberapa mengalami diare(1,2), kelesuan (4) dan bau mulut yang busuk (1).  Kucing yang terinfeksi dapat duduk berjam-jam didekat mangkuk air mereka, meskipun mereka tidak banyak minum.  Pemeriksaan fisik biasanya ditemukan depresi yang mendalam, dehidrasi, serta terkadang nyeri  perut. Perabaan pada perut �hal ini dapat menyebabkan muntah� menemukan adanya penebalan usus dan pembesaran nodus limfa mesenterial. Lesi atau jaringan abnormal pada retina �apabila muncul� akan menimbulkan bercak keabu-abuan(2).
Janin yang terinfeksi, ketika dilahirkan akan mengalami cerebellar hypoplasia (otak kecil tidak terbentuk sempurna), inkoordinasi (gangguan koordinasi otot), termor (gemetaran)(2) dan kebutaan (5).

Diagnosa
Dugaan diagnosa berdasarkan gejala klinis yang berhubungan, pada kucing yang tanpa vaksinasi dan menunjukkan leukopenia (50-3,000 WBC/�L). Neutropenia lebih konsisten ditemukan daripada limfopenia(2).  Diikuti dengan thrombositopenia, anemia, dan immunosupresi (turunnya sistem pertahanan tubuh)(3). Jumlah sel darah putih <2,000 sel/ �L dapat berhubungan dengan prognosis (perkiraan jalannya penyakit) yang buruk.
Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan menggunakan tes kit immunochromatograpic  yang dimaksudkan untuk mendeteksi adanya antigen CPV pada feses. Namun, antigen pada feses hanya dapat dideteksi dalam waktu singkat setelah infeksi, sehingga sering ditemukan terjadinya negatif palsu(2).
Sampel feses dan darah utuh dapat diambil untuk dilakukan test Polymerase Chain Reaction (PCR). Test serologi �dengan serum� tidak direkomendasikan karena hasilnya meragukan antara antibodi hasil dari infeksi atau vaksinasi(3).

Pengobatan
Keberhasilan pengobatan pada kasus akut tergantung pada terapi cairan dan perawatan suportif di unit isolasi. Gangguan elektolit (misalnya hipokalemia / kekurangan kalium), hipoglikemia (kekurangan glukosa), hypoproteinemia (kekurangan protein), anemia, dan infeksi sekunder sering berkembang memperparah keadaan kucing(2). Pada kasus enteritis / radang usus, pemberian antibiotik spektrum luas direkomendasikan(3). Pemberian anti muntah dapat dipertimbangkan. Vitamin dapat diberikan untuk mengatasi kekurangan thiamine. Kucing yang menunjukkan hypoproteinemia, mungkin membutuhkan tranfusi plasma atau darah utuh. Rekombinan interferon-omega efektif untuk terapi parvoviral enteritis dengan mencegah replikasi virus pada anjing, akan tetapi tidak ada data untuk kucing (10).
Apabila kucing yang terinfeksi dapat bertahan lebih dari 5 hari, biasanya akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu (4). Jika kucing Anda terkena penyakit ini, pemberian makanan secara paksa tidak dianjurkan(1). Pemilik diharapkan memisahkan kucing penderita dengan kucing yang masih sehat, agar tidak menular dan segera bawa ke dokter hewan!. Sangat tidak disarankan untuk coba-coba mengobatinya sendiri.
Serum anti-FPV dapat digunakan untuk mencegah infeksi pada kucing lain yang peka terhadap penularan(10). Desinfeksi lingkungan dapat dilakukan dengan larutan formalin, kaporit, ethylene oxide atau air mendidih(1).  Selain itu, untuk membunuh virus ini di lingkungan dapat  menggunakan pemutih pakaian (mengandung 6% sodium hypochlorite) yang diencerkan dalam 1:32 pelarut(2,3).

Pencegahan
Kolostrum yang terkandung dari air susu induk hanya dapat melindungi anak kucing sampai pada umur 6-8 minggu(12 dalam 10). Cara yang efektif untuk pencegahan saat ini hanya dengan vaksinasi. Di negara maju, penyakit ini mulai jarang ditemui. Kemungkinan dikarenakan penggunaan vaksin yang sudah dilakukan secara luas(2). Vaksin tidak dapat memberikan proteksi optimal pada hewan dengan kondisi gangguan sistem imun, seperti: defisiensi nutrisi, genetik, penyakit sistemik, pemberian obat yang menekan sistem imun, dan stress lingkungan. Usaha perlu dilakukan untuk melindungi kucing yang peka terhadap paparan penyakit dan memperbaiki kondisinya sebelum vaksinasi; jika tidak mungkin, vaksinasi dapat dilakukan dan diulangi ketika kucing sudah kembali pulih sepenuhnya. Life-vaccine modifikasi seharusnya diberikan secara sangat hati-hati pada kucing dengan gangguan sistem imun, dapat dipertimbangkan pemberian killed-vaccine yang lebih aman untuk kondisi ini(10).

Penyakit yang Mirip
Penyakit lain yang gejala klinisnya mirip dengan penyakit ini antara lain: depresi yang mendalam, leukopenia, dan gejala pencernaan. Dapat dipertimbangkan juga penyakit salmonellosis dan infeksi Feline Leukemia Virus (FeLV) dan Feline Immunodeficiency Virus (FIV)(2).

Sumber Artikel:
http://dokterhewanku.com/09/09/2016/penyakit-kucing-jahat-panleukopenia/, ditulis oleh M. N N Naufal

Sumber gambar:  Albert, L. 2009. Dalam �Feline Panleukopenia. ABCD Guidelines on Prevention And Management�. Journal of Feline Medicine & Surgery 2009.05.002

Daftar Pustaka :
(1) Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
(2) Squires, R. A. 2013. Overview of Feline Panleukopenia. http://www.merckvetmanual.com/mvm/generalized_conditions/feline_panleukopenia/overview_of_feline_panleukopenia.html. Diakses 27 Agustus 2016
(3) Truyen, U., Addie, D., Bel�k, S., Boucraut, B. C., Egberink, H., Frymus, T., Gruffydd, J. T., Hartmann, K., Hosie, M. J., Lloret, A., Lutz, H., Marsilio, F., Pennisi, M. G., Radford, A.D., Thiry, E., Horzinek, M.C. 2009. Feline panleukopenia. ABCD guidelines on prevention and management. J Feline Med Surg. 2009 Jul,11(7):538-46
(4) Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155
(5) Csiza, C.K., Scott, F.W., de Lahunta, A., Gillespie, J.H., 1971. Immune Carrier State of Feline Panleukopenia Virus-Infected Cats. American Journal of Veterinary Research 32, 419�426. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155
(6) Addie, D.D., Jarrett, O., Simpson, J., Thompson, H., 1996. Feline Parvovirus in Pedigree Kittens. Veterinary Record 138, 119. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155
(7) Cave, T.A., Thompson, H., Reid, S.W., Hodgson, D.R., Addie, D.D. 2002. Kitten Mortality in the United Kingdom: A Retrospective Analysis of Histopathological Examinations (1986 to 2000). Veterinary Record 151, 497�501. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155
(8) Kruse, B.D., Unterer, S., Horlacher, K., Sauter-Louis, C., Hartmann, K., 2010. Prognostic Factors in Cats with Feline Panleukopenia. Journal of Veterinary Internal Medicine 24, 1271�1276. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155
(9) Barker, I.K., Povey, R.C., Voigt, D.R. 1983. Response of Mink, Skunk, Red Fox and Raccoon to Inoculation with Mink Virus Enteritis, Feline Panleukopenia and Canine Parvovirus and Prevalence of Antibody to Parvovirus In Wild Carnivores in Ontario. Canadian Journal of Comparative Medicine 47, 188�197. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150�155
(10) Horzinek, M., Diane, A., Sandor, B., Corine B. B., Herman E., Tadeusz, F., Tim Gruffydd, J., Katrin, H., Margaret, J. H., Albert, L., Hans, L., Fulvio, M., Maria, G. P., Alan, R., Andy, S. 2006. ABC guidlines on Feline Panleukopenia Virus. European Advisory Board on Cat Disease
(11) Chandler, E. A. 2004. In Feline Medicine and Therapeutics3rd ed. Blackwell Science (UK)
(12) Dawson S., N.R. Smyth, M. Bennett, R.M. Gaskell, C.M. McCracken, A. Brown & C.J. Gaskell (1991). Effect of primary-stage feline immunnodeficiency virus infection on subsequent feline calicivirus vaccination and challenge in cats. J Acq Immun Defic Syndrome 5:747-750
 




Download GAME dan APLIKASI lainnya :

Pengertian "ZOONOSIS" Beserta Contoh Penyakitnya

(( See my Instagram at https://www.instagram.com/ajibondhan_k/ )) or ID= aji bondhan kottama ?:) Pengertian Zoonosis secara umum adalah : Penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Contoh penyakit zoonosis diantaranya : Antrax
                                                            Toxoplasmosis
                                                            Rabies
                                                            Brucellosis
                                                            Sars , dan lain - lain

Berikut penjelasan singkat tentang penyakit ini  :



  • Menurut UU No. 6 tahun 1967 pengertian zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya atau disebut juga Anthropozoonosis. Begitu pula dalam UU No. 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan, sebagai pengganti UU No. 6 tahun 1967 dinyatakan bahwa penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia dan sebaliknya.
  • Sedangkan pengertian zoonosis yang diberikan WHO, zoonosis adalah suatu penyakit atau infeksi yang secara alami ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
  • Zoonosis, menurut badan Kesehatan sedunia (OIE=Office Internationale Epizooticae) merupakan penyakit yang secara alamiah dapat menular diantara hewann vertebrata dan manusia. Penyakit yang tergolong dalam zoonosis dengan penyebaranpenyakit tersebar ke seluruh penjuru dunia dan yang sering ditemukan di Indonesia misalnya antraks, rabies, leptospirosis, brucelosis, toxoplasmosis, tuberkolosis, salmonellosis, avian Influenza, dan lain-lain. (Mangku Sitepoe, 2009, hal 1)

Antrax
Penyebab penyakit antrax adalah bakteri berbentuk batang, berukuran 1-1.5 mikron, bersifat aerobik, nonmotil, Gram positif yang disebut Bacillus Antracis. (Soeharsono, 2002, hal 18)
Antrax adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus Antracis. Bakteri ini bersifat aerob dan berkapsul, dialam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun di tanah.

Penyakit ini hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.

Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 - 1900 di daerah Karesidenan Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dari sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir ini diberitakan media elektronik maupun cetak, 6 orang dari Babakan Madang meninggal dunia gara-gara memakan daging yang berasal dari ternak sakit yang diduga terkena anthrax. Kejadian ini telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil langkah proaktif untuk meneliti kejadian ini agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.

Toxoplasmosis
Taxoplasmosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh protozoa yang dikenal dengan nama Taxoplasma gondii, penyakit ini dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan genital) pada bayi, hidrocephalus dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Pada umumnya penyakit ini ditularkan oleh Kucing yang terserang Toxoplasma Gondii.

Toxoplasma gondii, gerak sebab penyakit ini ditemukan pada kelinci dalam tahun 1908 oleh Nicolle dan Menceaux. Infeksi dengan protozoa ini telah lama dikenal pada mamalia, termasuk manusia, burung dan hewan kerikit. Beberapa penyelidik berpendapat bahwa pada hewan hanya ada satu jenis Taxoplasma (T. Gondii) walaupun telah bayak jenis toxsoplasma dilukiskan sebagai gerak-sebab penyakit ini pada berbagai jenis hewan. (Ressang, 1983, hal 141)

Rabies
Rabies atau biasa disebut anjing gila adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus golongan Rhabdovirus yang menyerang hewan berdarah panas dan manusia.

Penyakit rabies yang juga disebut Lyssa, Hydrophobia atau penyakit anjing gila, merupakan penyakit menular akut, bersifat fatal bagi penderitanya, yang disebabkan oleh virus neurotropik dengan sasaran akhirnya pusat susunan saraf, otak, dan sunsum tulang belakang, dari hewan berdarah panas dan manusia. Virus rabies merupakan virus RNA, termasuk familia Rhabdoviridae, genus Lyssa. (Subroto, 2006)

Brucellosis
Brucellosis adalah penyakit reproduksi menular ruminansia yang disebabkan oleh kuman Brucella sp. Penyakit ini merupakan penyakit penting di Indonesia yang dapat menular ke manusia (zoonotik). Brucellosis dilaporkan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia sehingga menimbulkan kerugian ekonomis yang cukup besar bagi pengembangan peternakan akibat kematian dan kelemahan pedet, abortus, infertilitas, sterilitas, penurunan produksi susu dan tenaga kerja ternak, serta biaya pengobatan dan pemberantasan yang mahal

Brucella menyebabkan keguguran atau keluron pada umur kebuntingan tertentu. Di Indonesi penyakit ini disebut juga penyakit keluron menular atau Bang. Bakteri penyebabnya sampai saat ini telah diidentifikasikan sebagai 6 (enam) spesies yaiu Brucella melitensis, Brucella abortus, Brucella suis, Brucella neotomae, Brucella ovis, dan Brucella canis. (Soejodono RR. 1999)

Sars
Sars adalah penyakit yang disebabkan oleh strain virus baru Coronavirus yang menyerang saluran pernapasan atas. Sars merupakan singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrom.
Sars adalah sebuah jenis penyakit pneumonia. SARS pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok. SARS sekarang dipercayai disebabkan oleh virus SARS. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia. 

Untuk itu jika Hewan Kesayangan atau Ternak anda sakit, lebih baik periksakanlah ke dokter hewan terdekat, agar meminimalisir penyakit - penyakit di atas ,      Thanks,,. 




Download GAME dan APLIKASI lainnya :

STRUKTUR MAKROANATOMI ORGAN GENITAL HEWAN BETINA


(( See my Instagram at https://www.instagram.com/ajibondhan_k/ )) or ID= aji bondhan kottama ?:) Vulva, terdiri dari dua labia commisura dorsalis dan ventralis, clitoris, dan vestibulum yang terletak diantara vulva dan vagina membentuk ujung caudal saluran kelamin betina (berasal dari entoderm sinus urogenitalis primitive dan ectoderm


Batas-batas:
    a.       Dorsal: rectum, anus
    b.      Ventral: dasar cavum pelvis
    c.       Lateral: m. semimembranosus, ligamentum sacro-ischiadicus
Celahnya disebut rima vulvae


Lubang muara urethra: orificium urethrae externum. Pada sapi dan babi disebelah caudalnya terdapat diverticulum suburethralis

Genitalis Interna

a.      Vagina,merupakan suatu struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis di sebelah dorsal dari vesica urinaria (sekitar portio vaginalis uteri)  yang berfungsi sebagi suatu organ kopulatorik dan tempat berlalunya fetus pada saat kelahiran.

b.      Batas-batas:

a.      Sebelah dorsal: rectum

b.      Sebelah ventral:vesica urinaria

c.       Sebelah lateral: dinding cavum pelvis

d.      Ruang sekitar portio vaginalis uteri: fornix uteri

Batas antara vagina dengan vulva terdapat selaput hymen

c.       Uterus, merupakan suatu struktur selubung muskuler yang berfungsi untuk menerima ovum yang telah dibuahi.

Terdiri dari: cornua uteri, corpus uteri, cervix uteri

Cornue uteri: dalam cavum abdominis

a.       Sapi: spiral

b.      Babi: panjang, berkelok-kelok

c.       Kuda: cekung ke dorsal
d.      Anjing: pendek
1.      Corpus uteri:
a.       Sebagian besar dalam cavum abdominis
b.      Membrana mucosa, endometrium ruminansia terdapat caruncula
2.      Cervix uteri:
a.       Dinding tebal 


a.       Saluran: canalis cervicis

1)      Kuda dan babi: di sentral

2)      Ruminansia: di ventral

3)      Carnivora: di dorsal

b.      Lubang:

1)      orificium uteri internum

2)      orificium uteri externum

c.       Bagian cervix uteri yang menonjol ke vagian disebut portio vaginalis uteri

Gambar: Tipe-tipe uterus
Cervix merupakan suatu otot sphincter tubuler yang dindingnya lebih tebal daripada dinding uterus bagian lainnya maupun vagina. Suplai darah dan inervasi saraf  sama seperti di uterus dan vagina kecuali arteri utero-ovarial. Cervix terletak sebelah caudal dari uterus di rongga pelvis, atau di dalam cavum abdominis. Terdapat lubang  orificium uteri internum dan orificium uteri externum.
Tuba fallopii/Oviduct, mempunyai bagian caudal yang pendek dan bersambung dengan apeks cornua uteri disebut isthmus, sedangkan bagian utama tuba fallopii yang membentang dari isthmus ke infundibulum tubae uterinae(corong tuba fallopii) disebut ampulla. Dari ujungnya yang berbentuk corong  ini terdapat fimbriae atau jumbai-jumbai saluran telur yang mempunyai pertautan parsial ke lateral ovarium dan ke ligament uteri-ovarial di medial, selain itu juga terdapat lubang ostium abdominale tubae. Suplai darah berasal dari arteri utero-ovarial sedangkan inervasi sarafnya sama dengan suplai saraf pada ovarium dan uterus. Bagian dari oviduct yang merupakan tempat terjadinya fertilisasi adalah bagian ampulla-isthmus junction.


Ovarium, terdiri dari suatu stroma atau jala pengikat dan pembuluh-pembuluh darah yang dikelilingi oleh selaput peritoneum kecuali pada batas pertautan atau hilus di mana pembuluh darah dan saraf memasuki ovarium. Ovaria terletak pada batas cranial ligamentum lata pada lantai ventrolateral pelvis tepatnya pada margo lateralis apertura pelvis cranialis (sapi). Di dalam ovarium terdapat sel-sel interstitial, sel telur primitive, folikel sekunder yang sedang berkembang, folikel de Graff, folikel atretik atau yang berdegenerasi, dan corpora lutea yang sedang berkembang. Ovarium ditunjang dan dipertautkan oleh bagian ligamentum lata (mesovarium), sebelah dorsal dan lateral oleh ligament utero ovarial di sebelah medial. Kantung yang terbentuk oleh ligament utero-ovarial dan mesovarium disebut bursa ovarii atau ventrikel. Suplai darah ke ovarium adalah dari arteri ovarial dan suatu cabang arteri utero-ovarial. Inervasi saraf dari saraf-saraf otonom dari pleksus ovarial yang timbul dari plexus renalis dan aortic. Ovarium berbentuk oval ukurannya berbeda-beda (misal pada sapi panjangnya 1,3 sampai 5 cm, lebar 1,3 sampai 3,2 cm dan tebal 0,6 sampai 1,9 cm). ovarium kanan umumnya agak lebih besar dari pada ovarium kiri karena secara fisiologik lebih aktif (Getty,1975) 


I.       Komparasi Struktur Anatomi Organ Reproduksi Betina
a.       Pisces (Punctius javanicus)
1)      Ovarium, tampak seperti agar-agar jernih atau terlihat bintik-bintik karena berisi sel-sel telur (ovum).
2)      Gonad (ovarium) melanjut ke sinus urogenitalis dan bermuara pada porus urogenitalis .

b.      Amfibi (Rana sp)


Ovarium, berjumlah sepasang. Merupakan organ penghasil ovum, di sebelah cranialnya dijumpai jaringan lemak berwarna kuning jingga disbeut corpus adiposum. Ovarium tedapat dalam alat penggantungnya, yang disebut mesovarium.
Oviduct, merupakan sepasang saluran yang berkelok-kelok. Oviduct dimulai denagn bangunan seperti terompet, yang disebut infundibulum dan memiliki lubang tempat pintu masuknya ovum, yaitu ostium abdominale tubae uterinae.
Oviduct di sebelah caudal mengalami pelebaran yang disebut uterus, namun secara fisiologi uterus ini masih dianggap belum sempurna .

a.       Reptil (Mabouya multifasciata)
Ovarium, berjumlah sepasang dan memiliki bentuk ovoid dengan permukaan luarnya berbenjol-benjol, letaknya terpat di ventral columna vertebralis, kurang lebih pada sedikit caudal pertengahan badan.
Oviduct, terletak di sebelah lateral dari ovarium. Mulai dari sebelah cranial dengan pelebaran sebagai corong, ostium abdominale tubae uterinae. Bermuara di cloaca, di dinding dorsal agak cranial .

b.      Aves (Gallus gallus bankhiva)
1)      Ovarium, hanya terdapat di sebelah kiri saja. Ovarium digantung oleh alat penggantungnya, yang disebut mesovarium.
2)      Oviduct, pada binatang yang masih muda berupa saluran yang lurus. Oviduct ini bermuara pada cloaca (urodaeum) dan oviduct digantung oleh alat penggantungnya, yang disebut mesosalphinx. Oviduct terdiri atas infundibulum, magna dan isthmus.
3)      Uterus, Merupakan bagian dari tubae yang membesar dan mengandung banyak kelenjar. Uterus turut serta berperan dalam pembentukan kulit telur .

c.       Mamalia (Cavia cobaya)
Organa genitalia femimina interna :
1)      Ovarium, berjumlah sepasang dan terletak di sebelah caudal dari ren. Ovarium digantung oelh penggantungnya, yang disebut mesovarium. Dalam ovarium terdapat folikel-folikel de graf, berupa gelembung-gelembung yang terletak pada permukaan ovarium. Sel-sel folikel ini menghasilkan hormon estrogen.
2)   Oviduct, terdiri dari infundibulum, ampula, dan isthmus.
3)   Uterus, berjumlah sepasang dari ductus mulleri dan berbentuk berkelok-kelok.
 
a)      Cornu uteri
b)      Corpus uteri
c)      Servix Uteri
1)      Vagina, merupakan alat kopulasi pada hewan betina.
Organa genitalia femimina externa :
1)      Vulva, merupakan celah antara kedua labium majus.
2)      Labium majus, berjumlah sepsang. Labium majus kanan dan kiri membatasi celah, yang disebut vulva.
3)      Labium minus, terletak di sebebelah dalam labium minus.
4)      Clitoris, merupakan suatu alat kecil, homolog dengan penis.



Getty, R. 1975. The Anatomy of Domestic Animals. W.B. Philadelphia London Toronto: Saunders



Download GAME dan APLIKASI lainnya :